(021) 424 7129 | Cempaka Putih Indah 100A, Jembatan Serong, Rawasari Jakarta 10520

Jun 16, 2017 1133times

Dari Djenthu Hingga Driyarkara

Rate this item
(0 votes)

Nama kecilnya Djenthu. Setelah masuk Novisiat Yesuit namanya berubah menjadi Driyarkara. Sosok bernama lengkap Nicolaus Driyarkara SJ ini memiliki peran penting dalam sejarah perjalanan bangsa Indonesia. Tak ada yang menyangka putra petani desa di daerah Purworejo, Jawa Tengah ini akan menjadi seorang tokoh yang diperhitungkan di Indonesia. Pemikirannya yang tajam dan menyentuh langsung ke akar permasalahan, termasuk filsafat mengenai Pancasila senantiasa dikenang. Namanya dikenang menjadi sekolah tinggi filsafat di Jakarta, STF Driyarkara. Tempat ini menjadi sarana mendidik dan mengasah intelektual para calon imam. Namun, tak banyak yang tahu tentang sosok dan pemikiran Driyarkara pada masanya.


Darah biru
Satu abad yang lalu, tepatnya pada 13 Juni 1913, keluarga Atmosendjojo yang tinggal di daerah Kedunggubah, Purworejo dikaruniai anak laki-laki yang sehat dan bugar. Mereka menamai bayi itu Djenthu, yang berarti kekar dan gemuk. Djenthu lahir di Kedunggubah, desa kecil dan terpencil di lereng Pegunungan Menoreh, kawasan Kali Gesing, sekitar delapan kilometer sebelah timur Purworejo. Mayoritas penduduk kawasan ini bertani.

Kondisi pendidikan di Kedunggubah amat memprihatinkan. Beberapa warga desa ini menyatakan, pendidikan di sini tidak banyak berkembang dari dulu hingga sekarang. Sekolah Dasar (SD) berdiri di wilayah ini sekitar 1976. Sekolah menengah tidak ada, sehingga anak-anak harus menempuh jenjang pendidikan menengah ke Purworejo. Djenthu tumbuh dan besar di Kedunggubah. Alam pedesaan yang masih asri, membentuk Djenthu menjadi pribadi yang bersahabat. Setelah menyelesaikan belajar diVolksschoolatau Sekolah Rakyat di Cangkrep, Purworejo, Djenthu melanjutkan keHollandsch Inlandsche School(HIS) Purworejo dan Malang. Di sinilah, Djenthu mulai berkenalan dengan agama Katolik. Ia pun dibaptis pada 22 Desember 1925.

Ia bisa melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi, karena mengalir “darah biru” dalam tubuhnya. Kakak ayahnya yang bernama Raden Wirjosendjojo adalah seorangglondhongatau kepala beberapa lurah yang dihormati di tempatnya, lantaran ia masih keturunan dari Raja Mataram. Benih-benih panggilan pun tumbuh dalam hati Djenthu. Ia ingin mengabdikan dirinya untuk Tuhan dan sesama. Ia pun memutuskan masuk Seminari Mertoyudan. Kecakapan dan kecerdasan Djenthu kian terasah. Ia pernah mendapat penghargaan karena memberi nama “Aquila”, yang berarti rajawali kepada majalah di Seminari Mertoyudan – yang masih hidup sampai sekarang.

Menjadi Driyarkara
Usai menyelesaikan belajar di seminari, Djenthu memilih menjadi pengikut St Ignatius Loyola. Ia masuk menjadi novisiat Serikat Yesus di Girisonta, Semarang. Saat menjalani masa novisiat ini Djenthu mengubah namanya menjadi “Driyarkara”. Kala itu, Novisiat Serikat Yesus memiliki tradisi mengganti nama sebagai bentuk ungkapan batin, meninggalkan masa lalu dan berharap lahir menjadi manusia baru. Kini, tradisi ini tak ada lagi.

Menurut Kamus Jawa Kuna-Indonesia, kata “Driyarkara” merupakan gabungan dari dua kata, yaitu “Driya” yang berarti mata dan “Kara” yang berarti sinar cahaya atau tajam. Nampaknya Djenthu memilih nama ini bukan sembarangan. Ia berharap menjadi pribadi yang memiliki penglihatan tajam pada segala gejala serta dapat menerangi banyak orang laksana sinar yang tajam. Dari pilihan nama, Djenthu sudah melihat, bahwa filsafat adalah jalan hidupnya.

Harapan ini pun terwujud. Setelah ditahbiskan menjadi imam pada 6 Januari 1947 oleh Mgr A. Soegijapranata SJ, pada masa-masa selanjutnya, Driyarkara banyak mendapat tugas dan belajar tentang filsafat. Usai menjalani masa Tersiat di Drongen, Belgia, ia mengambil program doktoral bidang filsafat di Universitas Gregoriana, Roma. Ia berhasil mempertahankan disertasinya dalam bahasa Latin dengan memuaskan. Selain menyelesaikan disertasi, Driyarkara masih meluangkan waktu mengirimkan tulisantulisan ringan untuk majalah dalam bahasa Jawa di Yogyakarta,Praba.Sepulang dari Roma, ia langsung diberi tugas menjadi Dosen Filsafat Kolese Ignatius Yogyakarta.

Filsafat Driyarkara
Driyarkara tidak pernah menulis buku. Satu-satunya tulisan utuh adalah disertasi doktoralnya. Driyarkara menginginkan filsafat menjadi cara hidup bagi banyak orang, maka ia memilih mengomunikasikannya dengan beraneka cara yang memungkinkan orang bermenung. Komunikasi menjadi pilar penting dalam usahanya menawarkan filsafat. Dalam tulisan di majalahPraba,Oktober 1952 - Juli 1955, dengan menggunakan namaPak Nala,Driyarkara memperkenalkan filsafat secara sederhana untuk merefleksikan kejadian sehari-hari di Indonesia. Ia menggunakan bahasa bersahaja, ungkapan ringan, polos, singkat, menarik, namun kritis.

Usaha Driyarkara tak hanya dilakukan di ruang kelas dan tulisan di kertas. Pada 1962-1967, namanya tercatat sebagai anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Ia juga pernah menjabat sebagai anggota Dewan Pertimbangan Agung (1965-1966). Driyarkara sempat beberapa kali menulis mengenai gambaran manusia dan Pancasila di Majalah Mingguan Katolik HIDUP. Driyarkara terakhir menulis di majalah HIDUP edisi 07, 12 Februari 1967. Driyarkara wafat saat berusia 54 tahun di RS St Carolus Jakarta, 11 Februari 1967 karena sakit. Ia dimakamkan di Tanah Abang, kemudian dipindahkan ke Girisonta.
 
Nikolaus Driyarkara

  • Tanggal Lahir : 13 Juni 1913
  • Baptis           : 22 Desember 1925
  • Tahbisan       : Semarang, 6 Januari 1947

Pendidikan 

  • Volkschool (sekolah rakyat) Cangkrep Purworejo (1919-1922)
  • Hollandsch Inlandshe School (HIS) di Purworejo dan malang (1922-1929)
  • Seminari Kecil di Yogyakarta (1929-1935)
  • Novisiat dan Yuniorat Yesuit di Girisonta (1935-1938)
  • Studi Filsafat di kolese Ignasius Yogyakarta (1939-1941)
  • Tahun Orientasi Kerasulan Girisonta (1941-1942)
  • Studi teologi di Kolese Muntilan (1942-1943)
  • Teologi Lanjutan di Maastricht, Belanda (1947-1949)
  • Tersiat di Drongen, Beldia (1949-1950)
  • Program Doktoral Filsafat di Gregoriana, Roma (1950-1952)
     

Tugas

  • Dosen Filsafat Seminari Tinggi Yogyakarta (1944-1947)
  • Dosen Filsafat Kolese Kanisius Yogyakarta (1952-1958)
  • Pimpinan Redaksi Basis Yogyakarta (1953-1965)
  • Rektor Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG) Sanata Darma Yogyakarta (1955-1967)
  • Guru Besar Luar Biasa Universitas Indonesia Jakarta (1960-1967)
  • Guru Besar Universitas Hasanudin (1961)
  • Guru Besar Tamu St. Lois University Missouri, AS (1963-1964)
  • Anggota MPRS Wakil Golongan Karya (1962-1967)
  • Anggota DPA (1965-1966)

    Wafat : RS St. Carolus Jakarta, 11 Februari 1967

    Penulis :Billy Aryo Nugroho SJ
    Sumber: http://www.hidupkatolik.com
Last modified on Monday, 31 July 2017 01:44
Go to top
Template by JoomlaShine